Just a Dream Wedding Concept
Pernikahan
adalah sesuatu yang sakral dalam hidup. Karena moment itu untuk sebagian orang
seumur hidup sekali begitupun juga aku, maka sebagian orang termasuk aku sendiri pasti memiliki keinginan dan konsep
pernikahan yang di impikan.
Tapi
gak dengan aku, semua konsep terhempas begitu saja bahkan dongeng impianku itu
hancur hanya untuk menghidupkan dongeng keluarga besar aku.
Nah itu
diatas sedikit prolog aku kali ini…..
Drama menjelang hari pernikahan pun dimulai.
H- 18
nih menuju pernikahan aku, entah kenapa karena mungkin begitu banyak tekanan
dan harus nurut nurut aja kayaknya aku mengalami hal seperti stress, bukan self
diagnosis ya dir. Tapi aku tuh gini orangnya bisa terlihat ketika aku tidak
menginginkan sesuatu, seperti halnya pekerjaan kemudian aku sedikit dipaksa dan
ketika aku periksa tes lab dll, hasilnya aku harus ngurangin stress guysss.
Setelah
aku lamaran, pasti nya aku dan calon pasangan aku itu mencari tempat dan ingin
merealisasikan konsep impian kita tentunya. Tetapi semuanya ambyarrr mak
pyarrrr kayak lagunya ndarboy. Harapan dan impian pun musnah seketika. Kalau ngomongin
konsep wedding, aku dan calon pasangan
gak aneh aneh siii, terlebih saat ini masih pandemic menuju new normal. Jadi lebih
ke intimate wedding yang hanya mengundang saudara dan teman dekat dimana itu
gak nyampe melibatkan banyak orang, dan acaranya khidmat. Tak perlulah resepsi
ataupun semeriah dan semegah apapun. Melihat kondisi dan mengukur diri dan
keaadaan.
Yang terjadi
adalah aku dan ibuku yang di tunggangi keluarga besarku selalu bersitegang
karena hal ini terutama tempat. Karena kita memiliki konsep sendiri itu, jadi
kita nyari nyari tempat kan. Tapi keluargaku lewat mamahku mengharuskan aku
menikah di tempat nenek, yang dimana disana mau gak mau harus melibatkan banyak
orang dan konsep akan menjadi berubah.
Pokoknya
sumpah serapah, penghakiman, ancaman, keharusan dan kemutlakan bahwa aku harus
menikah disana. Memang ada pilihan mau dimana tapi pilihan itu hanya formalitas,
tetap saja keinginanku tak ada yang terrealisasi. Mereka
menganggap aku orang bodoh, bego yang gak tau apa apa soal konsep pernikahan, yaaaa emang siii kan aku belum pernah menikah. Tapi apapun saran dari semuanya aku tampung dengarkan juga pertimbangan, karena tidak semuanya buruk dan tidak semuanya bisa diambil bahan referensi kan dirrr??
Aku tahu
dan sangat mengerti apapun yang mereka lakukan buat aku adalah sebuah kasih
sayang mungkin ingin yang terbaik terutama mamah aku. Tapi tidak dengan hanya
mendengarkan bibi aku sajakan harusnya????,,, setiap aku mengusulkan ide dan
keinginan aku selalu dimurkai, dimarahi, dibentak disangkain yang enggak
enggak, iyaa mereka berpikir dan berprasangka bahwa keinginanku tinggi lah
banyak maunya dan tidak menyesuaikan dengan budget. Padahal demi apapun aku
malah lebih ingin nikah di KUA doang, udah gitu aja.
I am
so tired,,,,,,
Lanjut
part 2
See youuuuu


0 comments